Fashion Hijab · Uncategorized

Inspiring Journey, 30 tahun bersama Shafira

Assalammualaikum,

Apasih yang ingin kalian gapai dan capai, pada saat memasuki usia 30 tahun. Sebuah usia baru, gak lagi remaja 17an, gak lagi wanita muda 20an, tapi belum sanggup dibilang tua 30-an.

Tahun depan saya pun memasuki usia 30 tahun, genep bulet 30. Saya flash back dan berpikir, apa saja yang saja sudah gapai. Rejeki yang berlimpah kah, karier yang sukses? Menikah dan menuju memiliki 2 anak insha Alloh..

Lalu pernah kah kita berpikir? atas berkat dan rahmat siapa kah kita memiliki semuanya?

sudah bahagia kah kita?

Menuju usia 30 tahun pula, SHAFIRA, brand muslim fashion ternama, mengajak kita para blogger untuk intimate gathering.. Shafira berbagi sebuah inspiring journey, perjalanan mencari kebahagiaan seorang hijabbers cantik Nadiah Fatimah

***Cerita Hijrah dan Kebahagiaan Nadiah

Hari itu, dengan senyuman manis dan baju indah dari Shafira Fashion, Mbak Nadiah hadir kedepan kami. Enak banget liatnya adem. Dengan anaknya aisha, ia maju untuk jadi pembicara hari itu.

ah pasti hidupnya bahagia terus, terkenal, sukses, cantik, menikah dan punya anak cantik pula

Tapi siapa yang menyangka, Nadiah pernah kehilangan kecantikannya, dan nyaris segalanyaaa, tepat di malam pertama pernikahannya.

Pernikahan menjadi harapan indah bagi kebanyakan wanita. Para pasangan pengantin baru juga biasanya menjalani kisah yang manis. Namun, impian seperti itu harus dipendam dalam-dalam oleh Nadiah Fatimah. Karena pada malam pernikahannya, Nadiah mendadak lumpuh, tidak dapat merasakan bagian tubuhnya, mulai dari perut kekaki.

hari itu pula Nadiah di diagnosis, menderita penyakit LUPUS

Ia merasa seluruh kenikmatannya, di cabut dalam sesaat oleh Allah SWT. ”

‘”Dari malam itu, demam tinggi, kulit bercak-bercak, demam tinggi, kaki bengkak, rambut rontok, sampai akhirnya setelah dua minggu, kaki nggak bisa lagi dipakai berjalan. Saat itu memang betul berat. Tetapi yang bikin mudah itu, karena punya Allah” ungkap Nadiah, yang tanpa henti sering kali mengucapkan Alhamdulillah untuk menunjukan rasa syukurnya pada Allah SWT.

Saat itu Nadiah sudah menjalani hijrah, namun malam itu menurutnya adalah puncak dari perjalanan hijrahnya.

“saya berpikir apa yang dapat membuat saya bahagia, hanya Allah SWT lah yang dapat membuat saya bahagia dan mengambil kebahagiaan itu pula. Saya ikhlas saya pasrah dan berserah kepada-Nya”
Mulai saat itu kondisi Nadiah terus menurun drastis: rambutnya rontok, kulitnya penuh bercak seperti nanah, kehilangan berat badan hingga 15 kilogram dalam sebulan. Awalnya sangat berat, sulit bagi Nadiah menerimanya. Apalagi sebagai perempuan, keindahan rambut dan kulitnya dicabut begitu saja oleh Allah SWT. Kondisi Nadiah amat memprihatinkan karena dia tak lagi dapat merasakan buang air ataupun menstruasi karena kelumpuhannya.

“Tak terhitung berapa dokter yang saya kunjungi, semuanya memvonis saya tidak mungkin bisa berjalan lagi. Rasanya campur aduk; sedih, marah, emosi, semua jadi satu,” kenang Nadiah dengan tegar tanpa henti pun Ia selalu mengucapkan Alhamdulillah.

Hal ini pun membuat Nadiah sangat pesimis akan kesembuhannya. Nadiah pun mempersilakan suami untuk meninggalkannya atau berpoligami. Nadiah sadar tak mampu melayani suami dan menjalankan perannya sebagai istri dengan kondisi seperti saat itu.

Namun jawaban suami sungguh di luar dugaan Nadiah. “Suami saya bilang saat itu, ‘Kamu sudah diciptakan menjadi jodoh saya. Dan sudah jalan dari Allah kita harus menghadapi ini bersama. Niat saya menikahimu adalah ibadah, saya tidak perlu yang lain,’” kenang Nadiah menirukan perkataan suaminya.

Nadiah diberi penyakit yang amat berat, namun juga dianugerahi suami yang luar biasa sabar. Penyakitnya menyadarkan Nadiah bahwa sabar itu tidak ada batasnya, manusialah yang menciptakan batas kesabaran itu sendiri. “Saya pernah merasakan 27 tahun nikmat memiliki kaki, di luar sana masih ada yang tidak pernah merasakan nikmat berjalan,” kata Nadiah bijak.

Nadiah dan suami akhirnya menyikapi cobaan ini dengan pasrah. Nadiah pun belajar menerima kenyataan untuk hidup dengan kondisinya yang sekarang. Keikhlasan ini berbuah manis. Dengan izin Allah SWT, Nadiah akhirnya menemukan kesembuhan. Kini Nadiah pulih seperti sediakala. Allah mengembalikan semua nikmat yang pernah diambilNya, bahkan mengembalikannya dengan berlipat ganda. Yaitu dengan kehadiran puteri kecil Aisha Fatimah Hendriks. Menjadi ibu adalah rahmat yang tak pernah diduga Nadiah sebelumnya. Dari sakit keras, kelumpuhan, tidak dapat berjalan, bergantung pada orang lain, hingga sembuh total, bahkan mengandung dan melahirkan.

Masya Allah, berlinang air mata saya mendengar kisah inspiratif Nadiah dan apa yang telah dilewatinya. Saya jadi kembali berpikir, saya harus lebih bersyukur. Melihat Nadiah yang tidak hentinya mengatakan Alhamdulillah disetiap ucapannya, membuat saya miris, sudah kah saya ucapkan alhamdulillah hari ini?

Alhamdulillah, terimakasih atas Rahmat dan Berkah-Mu padaku dan keluargaku ya Allah.

***30 Tahun Inspiring Journey Shafira
Hari itu, dengan dekorasi sarat warna putih dan gold yang sangat edgy Shafira juga berbagi kisah inspiratifnya.

Brand muslim pertama yang muncul ditahun 80-an, masya Allah, sudah banyak yang dilakukan Shafira pada usianya yang memasuki 30 tahun ini.

Kalau saat ini, kita sudah lihat banyak sekali wanita muslimah seliweran dengan busana muslim dengan aneka gaya, aneka suasana, casual, office look dan glamour. Tapi coba kita bayangkan, saat tahun 80an….Kala itu memakai busana muslim adalah sebuah tantangan berat. Adanya larangan dari berbagai instansi dan perusahaan membuat orang-orang merasa ragu bahkan takut memakai busana muslim. Mereka tidak diizinkan bekerja atau membuat pas foto dengan busana muslim. Selain itu, hampir semua orang menganggap berbusana muslim itu “kuno”, tidak keren, dan tidak fashionable. Tak ada pula perancang busana yang tertarik melirik pasar tersebut sehingga model busananya ”itu-itu saja”.

Itulah yang kemudian menjadi tonggak kehadiran Shafira.

Ini lah yang menjadi asal mula ibu Feny Mustafa mendirikan Shafira. Beliau bertekad memenuhi kebutuhan fashion para muslim dan mewujudkan keinginan para pekerja muslim untuk tampil syariah namun tetap modern dan trendy.

tekad beliau pun terlihat saat ini, Shafira pun telah lekat dengan masyarakat luas menjadi sebuah brand muslim besar, sebuah pioneer dunia fashion yang telah menginspirasi busana fashion baik muslim dan muslimah di dunia, dan Indonesia khususnya.

Perjalanan Shafira di dunia fashion muslim juga telah menorehkan banyak prestasi bagi bangsa Indonesia. Shafira telah mengangkat dan mengharumkan nama bangsa, dengan selalu menghadirkan kain-kain nusantara saat ikut serta pada perhelatan Fashion Mancanegara, mulai dari Dubai hingga New York, telah dibuat terpesona, dengan kain nusantara yang dibuat dengan fashion muslim khas Shafira.

Buat kalian yang ingin tahu lebih lanjut mengenai Shafira, dan karya-karya serta perjalanan panjang Shafira dapat mengunjungi Shafira, pada:

www.shafira.com

instragam : @shafiramuslimfashion

twitter : @shafiramuslim

Semoga Shafira terus menginspirasi, dan terimakasih telah mengajak saya menjadi salah satu yang dapat menyaksikan perjalan panjang Shafira.

cheers,

annisaramalia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *