Health · Parenting · pregnancy

#AwaliDenganYangTerbaik untuk Nutrisi si Kecil

 

Tentunya kita para Ibu semua percaya, menyusui atau sekarang sering dibilang meng-ASI-hi adalah hal terbaik yang dapat kita berikan pada anak di awal kehidupannya di dunia.

 

ASI sendiri adalah nutrisi terbaik bagi tumbuh kembang anak, dimana kandungannya mulai dari protein, vitamin, mineral dan lemak semua yang dibutuhkan bayi untuk tumbuh, dan tentunya tidak dapat ditiru oleh formulasi susu mana pun.

 

Lalu, kemudian para Ibu berlomba memberikan ASI secara lansung atau direct breastfeeding ke bayinya. Dan tinggalah ibu-ibu yang bekerja, yang rutin memompa atau memerah ASI untuk terus dapat memberikan ASI saat cuti melahirkan mereka berakhir.

 

Tapi pernah sadar gak? Memerah ASI, baik dengan tangan maupun pompa, tidak hanya berlaku bagi Ibu bekerja saja lho. Tetapi, memerah asi juga sangat dibutuhkan bagi stay at home mom yang padahal bisa langsung saja menyusui bayi kapan saja dimana saja.

 

Trus kenapa harus mompa? Buat siapa?

 

Jadi ingat percakapan guru dan dokter anak kesayangan ku di capping milis sehat beberapa waktu lalu. Ketika itu ada seorang Ibu dengan anak usia 3 bulan, namun berat badannya seret alias ga naik.

I : Dok, anak saya seret bb (berat badan -red)nya. Saya kasih MPASI dini aja ya?

W : Sejak usia 3 bulan ya. Menurut ibu kenapa bb nya seret? Nenennya bagaimana?

I : Nenennya sering dok. Lama.

W : ibu ASInya diperah teratur?

I : Nggak dok. Saya DBF (direct breast feeding -red).

(dengan mimik wajah yang menggelitik critical analysis di kepala saya. Mimik beberapa ibu yang seolah bangga berhasil menjadi pelaku sejarah DBF; karena … derajat DBF di atas marwah perah ASI.)

Ffuuiihh…. Apa yang salah dengan memerah ASI?

(milissehatyop.org capping 25)

Lalu Dr. Wati pun menjawab dengan panjang kali lebar, “Bu, DBF jalan, pumping juga jalan terus. Keduanya bisa seiring sejalan. Perah ASI BUKAN ranah ibu bekerja semata. Semua ibu menyusui kalau memerah asi dengan teratur, ibarat punya bayi kembar.”

 

Selalu saya ingat sejak pertama persiapan sebelum kelahiran Celina anak pertama saya dulu, dr Wati berpesan bahwa produksi dan kecukupan ASI adalah based on demands, bukan daun katuk, bukan ASI booster, bukan obat-obatan semacam domperidone dengan segudang efek samping. Tapi susui, perah, susui, perah, perah perah.

 

Jadi, ketika laju pertumbuhan bayi kita tidak optimal yang harus diperhatikan adalah kecukupan ASI nya. Bagaimana manajemen laktasi kita, bagaimana perlekatannya?, udah cukup terstimulasi kah?

 

Tujuannya apa sih? AGAR PRODUKSI ASI MENINGKAT tentu saja.

 

“memerah ASI secara rutin, ibarat memiliki bayi kembar! ASInya akan diproduksi buat 2 orang.” Teringat jelas saat hari pertama kelahiran Celina dulu aku udh harus mompa di RS lho sama Dr Wati. Dimana di awal tidak sedikit kan para Ibu yang masih seret ASI-nya. Nah, tujuan bawa pompa di tas persiapan kelahiran ku dulu, agar menstimulasi ASI di masa masa awal pasca melahirkan.

 

“Ketika ibu memerah secara teratur, maka produksi ASI akan meningkat” Pesan dr. Purnamawati, Sp.A (K)., kala itu.

 

 

Lalu pasti muncul pertanyaan dari para Ibu dirumah, ASIPerahnya lalu buat apa? Kan kita 24 jam Bersama anak?

ASIP (Air Susu Ibu Perah) dapat digunakan, untuk (milissehatyop.org):

  1. TOP UP, untuk diberikan tambahan ke bayi pasca menyusu untuk memastikan laju pertumbuhan bayi lebih terjaga
  2. Untuk “tabungan” ketika mendadak ibu ada halangan (ada yang sakit, atau mendadak harus pergi untuk urusan keluarga yang sangat penting).
  3. Untuk membuat campuran MPASI dan untuk diminum saat bayi mengonsumsi MPASI Membuat menu dengan ASIP bukan hanya di awal pemberian MPASI. Bikin puding roti campur ASI dan kerokan saus buah, krim sup, soto ayam dengan ASIP, smoothies, dan seterusnya.

 

Lalu kemudian muncul kekhawatiran Ibu, mengenai “Terus nanti kalau ASI dipompa, pas bayi lapar? Abis dong ASI nya?”

 

Produksi ASI justru berkesinambungan, saat kita rajin mompa. Awalnya mungkin dapatnya sedikit, tapi percayalah Kunci memerah ASI, bukan pada perolehannya. Melainkan seberapa teratur kita memerah. Meski cuma dapat 20 atau 40 ml, terus saja lakukan setiap 1.5 atau 2 jam. Berangsur produksi ASI akan meningkat. Manajemen laktasi yang baik, payudara tidak pernah kencang.

 

Lalu muncul lagi kekhawatiran Ibu yang lain “waduh repot ya, mompa sering. Belom lagi nenenin. Belom lagi beresin pompanya, belom lagi cuci, bersihin, sterilin.”

 

Ya gak ya gak?

 

Kalau pengalaman ku pribadi ya Bu, awalnya memang beraaaatttt pake bangeet, tapi setelah menjadi rutinitas semua akan terasa lebih mudah. Dengan manajemen ASI yang baik, bayi akan lebih tercukupi kebutuhannya dan satisfied. Bayi kita akan tidur lebih lama dan lebih lelap, laju pertumbuhan lebih baik, ibu pun menjadi lebih tenang dan buat pengalaman aku jadi punya waktu untuk bersama kaka dan bahkan untuk having a me time.

Oiya satu tips ku lagi salah satu untuk mengurangi kekhawatiran aku agar bisa rutin mompa, cari pompa ASI yang enteng dan awet bu. Bentuk yang mudah dibawa kemana aja. Aku lebih suka manual, karena rasanya lebih nyaman dan mengosongkan. Lalu pastinya bisa mompa dimana saja kapan saja.