Parenting · Uncategorized

Cerita Toilet Training Celina (Tips Toilet Training PART 2: Make it WORKS)

Hai mom,

Udah baca blog ku sebelumnya kan ya? kalau belum, yuk klik linknya disini PART 1: Readiness untuk tau tanda-tanda kesiapan anak untuk mulai proses toilet training.

Moms, untuk membuat rencana perjalan toilet training se-smooth mungkin untuk kita orangtua dan juga untuk anak, take a moment to learn what tends to work and what doesn’t

WHAT WORKS:

***waiting until your child is ready

Seperti cerita aku di post yang sebelumnya soal kesiapan anak untuk memulai toilet training. Kalau buat pengalaman ku ini bagian ibunya yang bener-bener harus latihan sabar, ngelihat anak teman, anak kakak yang sudah berhasil lulus toilet training pada usia yang lebih dini misal, 18 sampai 24 bulan, jadi membuat kita cemas dan akhirnya memaksakan anak untuk memulai toilet training ke anak.

Padahal, pada beberapa anak kemampuan fisik dan kognitif ini bisa jadi baru muncul pada usia 3 atau bahkan 4 tahun. Tetap awasi tanda-tanda psikis, kognitif dan perilaku siapa tau anak kita udah siap.

Ohya satu lagi, bebarapa penelitian juga menyarakan untuk menunggu beberapa saat jika anak sedang menghadapi lingkungan yg baru, misal baru masuk sekolah, teman baru, adik bayi baru lahir, atau saat kita traveling (ini susah bgt diterapkan saat travelling huhu)

And last but not least, once you start, and have been trying for several weeks without sucsess, ini tandanya anak kita belum siap. Tunggu dan postpone lagi selama beberapa minggu, hingga kita menemui tanda kesiapan pada anak lagi dan coba lagi.

***making a plan

6c7654cc5242bcbd827fee16159f31f7
Source: pinterest

Sebelum kita buru2 kepingin beli-beli potty seattraining pants dan lain-lainnya, sangat penting untuk bikin plan dulu untuk proses training ini dulu. Putuskan kapan dan bagaimana mulainya, how to handle “accidents”when to back off and so on.

oiya, disini kita juga harus merubah mindset untuk be flexible and don’t expect to much. Sama saja seperti orang dewasa, anak-anak akan menjadi lebih tidak menurut, ketika seseorang terus-menerus nagging dan mengomeli mereka. Tidak ada cara untuk mengetahui bagaimana anak kita akan merespon pada toilet training atau teknik apa yang paling tepat untuk anak kita. Perlu diingat, we may need trial and error dan seperti milestone atau tahapan perkembangan lainnya, bisa saja progressnya maju mundur gak melulu langsung berhasil.

Diskusikan plan anda dengan dokter anak, mereka mungkin punya banyak advice dan pengalaman yang bisa sangat membantu. Dulu aku dapet trik untuk bawa celina, pipis kekamar mandi, atau pura2 “kebelet” atau physical signs lain saat mau pipis dan lainnya.

***taking it slow

Menguasai berbagai tahap toilet training bisa memakan waktu lama lhoo, yessss beberapa anak mungkin bisa lulus dengan beberapa hari aja, tapi kebanyakan anak butuh waktu berminggu-minggu atau bahkan berbulan-bulan, apalagi kalau anak masih mengompol di malam hari.

potty_trng_1_4x3
photo credits: www.babycenter.com

Don’t push your toddler to hard (atau bahkan orang lain juga ikut-ikutan ya) hanya agar anak dapat menyelesaikan toilet training lebih cepat dari seharusnya. Biarkan anak take his time dan beradaptasi dengan proses panjang ini. Dia akan berpindah dari satu tahap ke tahap berikutnya dengan kecepatannya sendiri. DON’T COMPARE!!

Tapi tenang aja, tetep boleh kog untuk memotivasi anak dengan gentle reminders dan encouragement. Jika anak menolak, ease up!!

***praising your child

Selama proses toilet training, anak akan merespon dengan baik melalui positive reinforcement. Kapanpun anak berpindah ke tahap yang baru atau mau mencopa potty seat nya (walaupun anak belom sukses mengeluarkan pipis dipotty), berikan anak compliment seperti “waaahh hebatt pinter banget”, “nah anak keren” dan lainnya.

Tapi hati-hati not to go overboard: pujian yang lebaayy dan berlebihan mungkin malah membuat anak cemas dan takut untuk gagal, yang mana bisa mendorong untuk terjadinya toilet accident dan keengganan untuk toilet training lebih sering.

***accepting that there will be accidents

Eits, jangan khawatir, “accidents” disini beda kok sama accidents seperti kecelakaan, misal jatoh ditoilet kepeleset, bukan bukan. “accidents” disini maksudnya adalah anak pipis atau pup di lantai atau tempat lainnya, karena belum bisa menahan, atau telat ngabarin, atau emaknya telat respon saat anak kepengen pipis dan pup .  (panjang haha)

Kita harus siap, bahwa nantinya anak akan mengalami banyak “accidents” yang normal terjadi selama proses dan sebelum lulus dari toilet trainingDon’t get angry or punish him. Meskipun godaan mau marahin anak pasti ada, apalagi kita udah struggle selama proses toilet training ini, punishment jarang berhasil dalam kasus ini.

Perlu diingat, anak baru saja pada tahap awal memiliki sistem saraf yang cukup untuknya mengolah sensasi ingin pipis atau pup, dan otot-otot dibawah sana yang baru saja matang, yang dapat membuat anak menahan pipis dan pup nya.

So, tenang aja anak akan makin pintar menahan pipis dan pupnya seiring berjalannya waktu. Bahkan pada anak yang sudah lulus toilet training seperti Celina,  akan kemungkinan mengalami “accident” sampai 6 bulan setelah mereka lulus training.

Anak kita perlu untuk deal with setiap accident dengan tenang dan secara supportive. Jadi saat anak mengalami accident, dengan tenang bersihkan pipis dan pup anak dan berikan saran (sweetly) bahwa nanti dia harus coba untuk menggunakan potty nya.

viel~ gluck, cheers

@annisaramalia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *